Browsed by
Author: admin

Teknologi Baterai Terbaru, Hanya Butuh Hitungan Detik untuk Pengisian Penuh dan Tahan Hingga Seminggu

Teknologi Baterai Terbaru, Hanya Butuh Hitungan Detik untuk Pengisian Penuh dan Tahan Hingga Seminggu

Para peneliti dari University of Central Florida berhasil menemukan teknologi baterai yang canggih. Superkapasitor yang mereka temukan bisa digunakan untuk membuat baterai yang hanya butuh waktu pengisian dalam hitungan detik. Tidak hanya itu, baterai ini juga memiliki ketahanan lama, bisa dipakai hingga satu minggu.

Superkapasitor yang dihasilkan dalam penelitian ini memang memiliki ukuran yang kecil. Meski begitu, superkapasitor ini punya kemampuan untuk menyimpan energi dalam jumlah yang banyak. Ukurannya tidak lebih besar dari kuku jari. Selain itu, superkapasitor ini juga memiliki ukuran yang tipis dan fleksibel.

baterai-superkapasitor

Para peneliti pun mengatakan, desainnya yang mungil menjadikan baterai superkapasitor ini bisa digunakan untuk berbagai jenis perangkat yang berukuran kecil. Mulai dari perangkat wearable ataupun smartphone dan tablet. Terlebih, baterai ini memiliki ketahanan hingga 30 ribu kali pengisian. Profesor Niti Choudhary, salah satu peneliti yang turut serta mengatakan, sekali pengisian baterai bisa tahan hingga satu minggu.

Ketahanan baterai superkapasitor ini jauh lebih tinggi dibandingkan baterai lithium ion. Biasanya, baterai lithium ion hanya mampu tahan antara 300 hingga 500 kali pengisian. Kalaupun masih digunakan, daya tampung energi pada baterai akan mengalami penurunan, hanya mampu menampung 70 persen energi.

Sayangnya, teknologi baterai superkapasitor ini masih belum bisa dijumpai di perangkat elektronik yang dijual di pasaran. Meski begitu, potensi kehadiran teknologi baru ini akan bisa terjadi pada beberapa tahun mendatang. Keren loh, tidak perlu mengisi baterai selama seminggu.

Urgensi Peranan NASDEC dalam Membangun Poros Maritim

Urgensi Peranan NASDEC dalam Membangun Poros Maritim

NASDEC (National Ship Design and Engineering Center) merupakan lembaga pusat desain dan rekayasa kapal nasional yang berdiri sejak 2006 berdasarkan kerja sama antara ITS dan Departemen Perindustrian. Berdirinya Nasdec diharapkan mampu menjadi simpul desain kapal dan rancang bangun perkapalan untuk mendukung pembangunan maritim nasional.

Dalam pembangunan poros maritim dunia tentunya NASDEC memiliki peran penting sebagai pusat studi teknologi kemaritiman. Hal tersebut tentunya sangat diperlukan sebagai salah satu elemen pendukung Indonesia untuk mewujudkan tol laut sebagai pendukung poros maritim dunia.

desain-kapal

Dalam hal ini sekjen Asosiasi Pemuda Maritim Indonesia (APMI), Ahlan Zulfakhri menyampaikan kepada Jurnal Maritim bahwa NASDEC merupakan sebuah lembaga yang sangat penting dalam mendukung pembangunan tol laut menuju Indonesia sebagai poros maritim dunia. Namun sayangnya fungsi NASDEC selama ini belum mampu berjalan secara optimal untuk memberikan dukungan bagi pembangunan maritim Indonesia.

“Pemerintah harus mampu mengambil tindakan terhadap hal ini. NASDEC merupakan nyawa dari riset teknologi kemaritiman. Akan sangat lucu jika kita bicara poros maritim dunia namun ternyata riset desain kapal dan bangunan laut tidak mampu berjalan secara optimal,” tegas Ahlan.

Sambung Ahlan, NASDEC merupakan hasil kerja sama antara ITS dan Kementerian Perindustrian, bukan berarti NASDEC dimiliki ITS dan ini yang seharusnya mampu dilihat oleh para pengampu kebijakan.

“NASDEC seharusnya mampu difungsikan sebagai sebuah lembaga simpul yang merangkul semua ahli teknologi kemaritiman untuk berkontribusi dalam membangun maritim Indonesia,” ulasnya.

Alumni Teknik Perkapalan UNHAS, Amadin menerangkan mengapa NASDEC berada di ITS. Karena menurutnya di ITS memiliki kelengkapan infrastruktur yang menopang pembangunan teknologi perkapalan nasional.

“Berdirinya NASDEC di ITS bukan tanpa alasan, karena di wilayah kampus ITS juga terdapat LHI (Lembaga Hidrodinamika Indonesia-red) yang menjadi salah satu faktor pendukung riset teknologi maritim yang dijalankan, artinya ketika pusat riset teknologi kemaritiman dengan lab hidrodinamika berjalan sinergi maka riset teknologi kemaritiman nasional seharusnya mampu berjalan dengan optimal,” jelas Amadin.

Lebih lanjut, Amadin menambahkan sudah seharusnya ITS mampu merangkul universitas-universitas yang memiliki jurusan studi Teknik Perkapalan agar transfer knowledge dan value dapat berjalan untuk kemajuan perkapalan ansional.

“Sebagai kakak tertua teknologi kemaritiman, ITS diharapkan merangkul universitas lain untuk bersama membangun kemaritiman Indonesia,” imbuhnya.

Di akhir pemaparannya Amadin menyampaikan tentang visi Indonesia menjadi poros maritim dunia merupakan sebuah gagasan besar tentang semua aspek mengenai kemaritiman, tidak terkecuali teknologi kemaritiman yang menjadi ujung tombak pembangunan maritim.

“Jangan bicara indonesia sebagai poros maritim dunia jika riset kemaritiman Indonesia masih minim. Ini menjadi PR (Pekerjaan Rumah-red) bersama untuk para ahli kemaritiman bahwa salah satu elemen penting dalam pembangunan maritim indonesia adalah riset maritime,” pungkasnya.

 

Source : jurnalmaritim

Teknologi Laser Anti Pemalsuan Kartu Identitas

Teknologi Laser Anti Pemalsuan Kartu Identitas

Para pelaku kejahatan selalu bisa mengelabui teknologi pengaman kartu identitas bagi tindak kejahatan lintas negara. Seorang ilmuwan Jerman meyakini telah menemukan teknologi laser anti pemalsuan.

lasertech

Steffen Baudach, pakar fisika laser Jerman itu punya tugas penting dan perlu kecermatan tinggi. Ia menelitik teknik untuk mencegah para pemalsu uang yang beroperasi secara internasional merajalela.

Baudach adalah seorang pakar keamanan kartu identitas dan kartu penting lainnya. Tujuannya: membuat kartu identitas yang anti pemalsuan. Teknologi kuncinya: cahaya laser.

Steffen Baudach menceritakan mengapa ia terjun ke dunia pengaman kartu identitas lewat teknik laser: “Laser adalah obyek yang membawa saya ke bidang fisika. Itu diawali di sekolah. Di sanalah saya pertama kali melihat laser. Peralatan yang sangat mengagumkan. Di situ saya sadar, saya harus studi fisika.

Dengan penjagaan rahasia ketat, Baudach melakukan penelitian di lokasi kartu identitas dan uang dibuat dan dicetak. Bagi pakar teknik laser ini keamanan data dan identitas sangat penting. Semua orang harus hati-hati dengan data pribadinya.

Pengaman berdasar riset dokumen palsu

Dokumen yang dipalsukan punya nilai sangat tinggi bagi ilmuwan. Dengan teliti mereka menganalisa kelemahannya. Hanya orang yang benar-benar membayangkan bagaimana pemalsu bekerja, bisa membuat kartu identitas yang aman.

“Sebenarnya kita hanya dua atau tiga langkah lebih unggul dari pemalsu dokumen. Apapun yang dicapai berdasarkan standar teknik paling maju, nantinya bisa dicapai pemalsu juga. Artinya, orang harus menempatkan halangan begitu tinggi, sehingga seorang pemalsu tidak bisa memanipulasi dengan terlalu mudah,” ujar Baudach memaparkan situasi bagai perlombaan teknik antara penjahat lawan ilmuwan..

Pengetahuan lengkapnya tentang dokumen paspor dan seluruh pengetahuannya sebagai pakar fisika laser digunakan Baudach untuk menciptakan sebuah mesin pencetak paspor yang paling aman di seluruh dunia. Tidak mungkin dipalsukan atau ditiru. Oleh sebab itu, para pemalsu memprioritaskan mencuri dokumen asli dan tinggal mencocokkan atau merekayasa hingga wajah yang tampak pada foto bisa semirip mungkin.

Ibaratnya ilmu kimia modern, laser di bagian dalam mesin mengukir hologram, tulisan gambar khusus yang hanya bisa dilihat di bawah cahaya Ultra Violet. Bagaimana berfungsinya? Itu rahasia negara.

Secara ringkas pakar fisika laser itu mengungjkapkan, “Ini bukan sekedar laser. Laser bisa punya bentuk berbeda-beda, baik cahayanya, warnanya, atau lamanya pulsa. Itu kemampuan aktual kita saat ini. Tapi dengan itu kita baru di awal saja.”

Teknologi yang didukung laser bagi keamanan dokumen sekarang terbukti jadi yang terbaik di dunia. Mesin yang dibuat Baudach dijual ke berbagai negara. Itu membuat pemalsu kehabisan akal dan dunia jadi sedikit lebih aman.

 

Source : dw

Teknologi dan Pertumbuhan Produktivitas

Teknologi dan Pertumbuhan Produktivitas

“Kinerja yang kuat dari pertumbuhan produktivitas di paruh kedua tahun 1990-an itu sebenarnya disebabkan dipercepatnya perubahan teknis, pengukuran yang tidak buruk atau faktor temporer.”

Produktivitas merupakan salah satu indikator yang paling diawasi ketat dari prospek ekonomi jangka panjang. Peningkatan produktivitas adalah kunci untuk membuat kemungkinan kenaikan permanen di standar hidup. Dalam Pertumbuhan Produktivitas pada 1990-an: Teknologi, Pemanfaatan, atau Penyesuaian (NBER Working Paper No 8359), penulis Susanto Basu, John Fernald, dan Matthew Shapiro perkiraan baru hadir dari peran perubahan teknologi dalam menciptakan peningkatan tidak biasa dalam produktivitas diukur selama paruh kedua tahun 1990-an.

plantcircuit

Perubahan teknologi adalah satu-satunya sumber peningkatan permanen dalam produktivitas, namun sejumlah faktor transient dapat mempengaruhi benar dan “diukur” produktivitas. Misalnya, para pekerja dapat bekerja lebih keras selama periode permintaan tinggi dan perusahaan mungkin menggunakan aset modal mereka secara lebih intensif dengan menjalankan pabrik untuk shift tambahan; kedua faktor dapat memimpin diukur produktivitas menjadi relatif terlalu tinggi untuk kemajuan teknologi yang sebenarnya. Demikian pula, selama periode permintaan tinggi, produktivitas dapat meningkat karena perusahaan memanfaatkan meningkat atas skala; penulis berpendapat bahwa efek ini tidak permanen dan harus diskonto ketika pengukuran yang jangka panjang perubahan teknis. Kekuatan ekspansi ekonomi terbaru di paruh kedua tahun 1990-an telah menyebabkan banyak komentator berpendapat bahwa peningkatan pesat dalam produktivitas diukur selama periode yang disebabkan pengukuran buruk atau faktor temporer jenis ini.

Ekspansi yang dimulai pada 1990-an juga dibedakan dengan peningkatan besar dan tahan lama dalam investasi bisnis. Meskipun kerja angkatan kerja, partisipasi angkatan kerja, dan tingkat pengangguran telah sebanding dengan apa yang terjadi dalam ekspansi sebelumnya, pangsa investasi di bidang teknologi informasi naik dari baseline sekitar 3 persen dari PDB pada akhir 1980-an hampir 6 persen dari PDB pada tahun 1999. para penulis menyarankan bahwa ini tingkat yang luar biasa cepat investasi benar-benar dapat menyebabkan pertumbuhan produktivitas diukur untuk mengecilkan tingkat yang mendasari perubahan teknis – karena investasi modal yang cepat mengganggu kemampuan perusahaan untuk menghasilkan output, misalnya karena pekerja mereka sering dialihkan dari tugas normal mereka untuk memasang peralatan baru dan belajar untuk menggunakannya secara efektif. Ini “penyesuaian biaya” pertumbuhan output yang lebih rendah, dan pertumbuhan produktivitas sehingga diukur lebih rendah juga.

Mengendalikan ini berbagai efek pembaur, penulis menemukan bahwa kinerja yang kuat dari pertumbuhan produktivitas di paruh kedua tahun 1990-an itu sebenarnya disebabkan mempercepat perubahan teknis, tidak pengukuran buruk atau faktor temporer. Mereka menemukan bahwa pada paruh pertama tahun 1990-an, teknologi benar tumbuh pada tingkat tahunan sebesar 1,2 persen, namun angka ini naik menjadi 3,1 persen untuk periode 1995-9. Bahkan, laju perubahan teknis atas 1995-9 bahkan melebihi tingkat pertumbuhan yang diukur dari 2,5 persen, karena efek redaman sementara investasi lebih tinggi dari pertumbuhan produktivitas disebutkan di atas.

Secara keseluruhan, para penulis menyimpulkan, ada “bukti peningkatan yang substansial dalam laju perubahan teknologi di paruh kedua tahun 1990-an.” penggunaan intensif lebih dari modal dan tenaga kerja menyumbang beberapa peningkatan produktivitas diukur dalam paruh pertama tahun 1990-an, tetapi pemanfaatan itu datar atau menurun di paruh kedua. biaya penyesuaian bertopeng sebagian besar dari peningkatan teknologi benar yang terjadi pada paruh kedua tahun 1990-an.

Hasil ini juga menunjukkan bahwa produktivitas meningkat didistribusikan secara luas, jika tidak merata. manufaktur tahan lama mengalami tingkat tercepat pertumbuhan teknologi dan percepatan terbesar, dengan kenaikan lebih dari 6 persen per tahun selama paruh kedua tahun 1990-an. perkembangan teknologi di sektor non-manufaktur swasta – yang mencakup sektor jasa besar dan penting – meningkat dari 0,9 persen menjadi 2,7 persen pada periode yang sama. Dalam manufaktur non-tahan lama, namun, pertumbuhan teknologi adalah “sangat lambat,” meskipun penulis berpendapat bahwa hasil ini mungkin timbul dari masalah data pada akhir sampel.

 

Source : nber

Rencana Gila Silicon Valley untuk Membuat Bursa Efek Baru

Rencana Gila Silicon Valley untuk Membuat Bursa Efek Baru

erick_pris

Lima tahun yang lalu, ketika Eric Ries sedang mengerjakan buku yang akan menjadi buku terlaris nya tentang manifesto kewirausahaan “Lean Startup,” ia memunculkan ide provokatif dalam epilog: Seseorang harus membuat sesuatu baru, “long-term” bursa efek. Pada perubahannya, ia menulis akan mengubah siklus triwulanan panik untuk mendorong investor dan perusahaan untuk membuat keputusan yang lebih baik untuk tahun-tahun mendatang. Ketika ia menunjukkan draft sekitar, banyak pembaca memberinya bagian yang sama nasihat: Bunuh bagian gila tentang pertukaran. “Itu merusak kredibilitas saya untuk segala sesuatu yang telah datang sebelumnya,” kata Ries ia diberitahu.

Sekarang Ries adalah meletakkan dasar untuk membuktikan skeptis awal yang salah. Untuk membawa Bursa Efek Jangka Panjang untuk hidup, dia membentuk tim dari sekitar 20 insinyur, eksekutif keuangan dan pengacara dan mengangkat putaran benih dari lebih dari 30 investor, termasuk kapitalis ventura Marc Andreessen; teknologi penginjil Tim O’Reilly; dan Aneesh Chopra, mantan kepala kantor teknologi dari Amerika Serikat. Ries telah memulai diskusi awal dengan Securities and Exchange Commission AS, tapi meluncurkan LTSE bisa memakan waktu beberapa tahun. pertukaran wannabe biasanya pergi melalui bulan pembicaraan informal dengan SEC sebelum mengajukan draft aplikasi, yang berencana LTSE lakukan tahun ini. Regulator kemudian dapat mengambil bulan untuk memutuskan apakah akan menyetujui atau aplikasi delay.

Jika semua berjalan sesuai rencana, LTSE bisa menjadi bursa yang perbaikan apa Ries lihat sebagai wabah pasar umum hari ini: berpikir jangka pendek yang meremukkan keputusan ekonomi yang rasional. Ini stigma yang sama yang mengemudi lebih dari multi-miliar dolar startups unicorn Silicon Valley mengatakan mereka bahkan tidak berpikir untuk IPO. “Semua orang diberitahu, ‘Jangan pergi publik,'” kata Ries. “Kebijaksanaan konvensional yang paling umum saat ini adalah bahwa go public akan berarti akhir dari kemampuan Anda untuk berinovasi.”

Untuk Ries, 37, pasar publik mendorong perilaku merusak diri sendiri, dan ia melihat dinamika mereka sebagai salah satu alasan mengapa jumlah perusahaan publik AS telah jatuh hingga setengahnya sejak puncaknya pada 1996. Setelah perusahaan go public, karyawan “yang Yahoo Finance setiap hari, dan itu jelas berapa banyak yang mempengaruhi pengambilan keputusan manajer biasa, “katanya. Masalahnya dimulai dengan investor pasar saham yang mendukung perusahaan yang menunjukkan kenaikan besar dalam penjualan, keuntungan, pengguna, atau tindakan lain setiap kuartal. Ketika sebuah perusahaan jatuh pendek, investor melarikan diri, dan saham merosot. Manajer, berharap untuk menghindari goncangan tersebut, menghabiskan terlalu banyak waktu berfokus pada kinerja jangka pendek. Ries mengatakan dia mendengar cerita yang sama berkali-kali: setengah jalan melalui seperempat, seorang eksekutif menyadari perusahaan tidak di trek dan mulai memangkas proyek inovatif untuk memenuhi target.

Buku mani Ries ini diberitakan metode gagal-cepat membangun startups di mana tim mendapatkan “produk yang layak minimum” di depan pelanggan secepat mungkin untuk menghindari membuang-buang waktu dan usaha. “Lean Startup” dibuat Ries, yang sebelumnya bekerja sebagai insinyur perangkat lunak di gagal pembuat dunia maya Ada dan sebagai pendiri dari jaringan sosial yang lebih sukses IMVU, nama dihormati di kalangan pengusaha Silicon Valley. Sementara pembaca berbondong-bondong ke pelajaran startup-nya, tidak ada yang mengambil usulan pasar saham nya – itu terlalu polarisasi. Ketika ia memutuskan untuk melakukannya sendiri, ia mulai berbicara dengan bankir, pemodal ventura dan regulator, yang mengatakan kepadanya idenya konyol. “Orang-orang memperlakukan saya seperti barbar,” katanya. Tidak terpengaruh, ia menghabiskan tiga tahun merekrut tim dan berat ide yang berbeda, seperti pengisian biaya yang lebih tinggi untuk perdagangan jangka pendek. Akhirnya, LTSE menetap di tiga reformasi yang membahas bagaimana eksekutif dibayar, bagaimana perusahaan dan investor berbagi informasi dan bagaimana investor suara.

Sebuah perusahaan yang ingin daftar sahamnya di bursa Ries akan harus memilih dari menu rencana kompensasi LTSE-disetujui dirancang untuk membuat gaji memastikan eksekutif tidak terikat dengan kinerja saham jangka pendek. Ries mengeluh bahwa itu umum untuk melihat CEO atau top manajemen mendapatkan bonus triwulanan atau tahunan terkait dengan metrik tertentu seperti laba per saham, yang mendorong mereka untuk angsa angka. Ries ingin mendorong perusahaan untuk mengadopsi paket saham yang terus vesting bahkan setelah eksekutif telah meninggalkan perusahaan, yang akan mendorong mereka untuk membuat sehat bergerak jangka panjang.

The LTSE juga ingin menyenggol perusahaan dan investor untuk berbagi informasi lebih lanjut, seperti detail pada belanja R & D. Untuk mendapatkan investor untuk berpartisipasi, pertukaran harus menggoda mereka dengan hadiah, jadi LTSE berencana untuk menggunakan hak suara sebagai wortel. Jika investor membocorkan nama asli pemilik bermanfaat bagi manajemen (sebagai lawan bersembunyi di balik “nama jalan”) mereka akan mulai untuk mendapatkan hak suara yang lebih lama mereka telah memiliki saham mereka. LTSE berharap untuk membuat uang besar dengan menjual perangkat lunak untuk perusahaan dan mengumpulkan biaya listing, yang bisa menjadi bisnis yang sulit, mengingat daftar sebagian besar perusahaan di kedua NYSE atau Nasdaq di AS dan sering memilih berdasarkan reputasi terpercaya. Sebagai Ries melihatnya, sebuah perusahaan LTSE yang terdaftar akan memiliki cap tambahan persetujuan. “Anda iklankan ke pasar bahwa Anda bersedia akan diadakan untuk standar yang lebih tinggi,” kata Ries. “Ini adalah standar emas, jangka panjang yang paling, versi paling hardcore go public.”

reformasi Ries mungkin tidak memiliki efek yang dimaksudkan. Misalnya, pemberian hak suara yang lebih kuat untuk pemegang saham jangka panjang akan membuat pengambilalihan lebih keras, dan yang bisa berakhir melindungi manajer puas, kata Larry Harris, seorang profesor keuangan dan bisnis ekonomi di University of Southern California sekolah bisnis. “Ancaman pengambilalihan telah melakukan banyak hal untuk mendapatkan perilaku yang baik dari perusahaan-perusahaan dari mungkin apa pun,” katanya. “Saya menduga sophisticated investor dapat menghindari” pertukaran yang menciptakan hambatan untuk investor yang ingin menggoyang.

Mendapatkan persetujuan SEC juga bisa menjadi proses yang menyakitkan, terutama ketika mencoba untuk mengubah status quo. Seperti Ries, Brad Katsuyama, pahlawan dari 2.014 buku Michael Lewis, “Flash Boys,” sedang mencoba untuk mengatasi apa yang ia lihat sebagai kekurangan pasar yang ada. Katsuyama telah menghabiskan bagian yang lebih baik dari tahun mencoba untuk mendapatkan persetujuan SEC untuk Investor Exchange, yang katanya menetralkan keuntungan yang tidak adil frekuensi tinggi para pedagang ‘. Mapan tidak senang. NYSE membanting proposal sebagai “tidak adil” dan “buram” dalam surat November untuk regulator. Nasdaq bulan lalu memperingatkan SEC bahwa jika menyetujui permohonan IEX ini, gugatan menantang keputusan akan cenderung berhasil. “Setiap kali pertukaran ingin melakukan sesuatu yang berbeda secara signifikan, kemungkinan untuk datang di bawah banyak pengawasan dan memakan waktu yang lama,” kata Tyler Gellasch, direktur eksekutif kelompok perdagangan investor Pasar Sehat.

Dan sementara Silicon Valley telah berhasil terbalik banyak industri besar, belum pernah beruntung dengan tradisi Wall Street mengakar. Upaya Google 2004 selama IPO untuk mendistribusikan sahamnya lebih adil melalui lelang “Belanda” menyebabkan mengecewakan hari pertama perdagangan dan tidak pernah tertangkap. Marc Andreessen melihat IPO tidak lazim Google sebagai “studi kasus besar dan kisah peringatan,” katanya. “Sebagian besar dari apa yang Eric coba lakukan adalah memastikan bahwa jelas tidak terjadi.”

Jika Ries mendapat lampu hijau dari SEC, dia akan menghadapi apa yang mungkin berubah menjadi tantangan terbesar: membujuk perusahaan untuk menjadi yang pertama untuk daftar di LTSE. Karena bisa menjadi tahun sebelum LTSE mendapat persetujuan SEC, Ries tidak pacaran Uber, Airbnb atau rekan-rekan. Sebaliknya dia menghubungkan dengan mid-size pendiri startup, beberapa di antaranya telah berinvestasi di LTSE. Dalam beberapa tahun ke depan, Ries berharap segelintir perusahaan-perusahaan ini akan muncul calon IPO kuat. Jika dia beruntung, salah satu akan cukup percaya diri untuk menjadi pelopor. “Ada masalah tindakan kolektif nyata di sini,” katanya. “Sebagai sebuah industri, kita semua ingin melihat perubahan ini terjadi, tapi selalu ada sedikit insentif untuk setiap aktor individu untuk mengatakan, ini bukan perjuangan saya – saya akan menunggu dan membiarkan orang lain menerimanya. Saya tidak iri orang-orang. Tapi jika semua orang melakukan itu, perubahan tidak terjadi.

Source : bloomberg

Menguak Bagaimana Emoji Mampu Mempengaruhi Kekuatan Konten Media Sosial Kita

Menguak Bagaimana Emoji Mampu Mempengaruhi Kekuatan Konten Media Sosial Kita

emoji-marketing

Menggunakan layanan media sosial tentu bukan menjadi hal yang aneh lagi bagi masyarakat modern saat ini. Hampir setiap hari mayoritas dari kita membuka akun pribadi media sosial untuk berbagai tujuan seperti update status, memperoleh informasi terkini, chatting bersama teman atau mungkin juga yang berhubungan dengan urusan bisnis. Semuanya bisa dirangkum dalam layanan #media sosial dengan sangat mudah dan praktis.

Dan tentunya, rekan-rekan juga terbiasa menggunakan konten emoji untuk melengkapi update status atau konten lain yang dibagikan via media sosial, bukan? Disadari atau tidak, emoji sudah mulai menggeser penggunaan kata-kata dan digantikan dengan simbol yang lebih unik dan menarik. Bahkan, tidak sedikit pula yang hanya menggunakan emoji saja tanpa mencantumkan kata-kata sama sekali.

Lalu jika dihubungkan dengan efektivitas penggunaan media sosial untuk urusan marketing, apakah penggunaan emoji efektif? Jawabnya sangat efektif. Dan berikut penjelasannya.

Pentingnya Penggunaan Emoji Marketing Media Sosial

Disampaikan oleh seorang internet marketer yang juga peneliti marketing media sosial, Larry Kim menyatakan bahwa emoji mempunyai kekuatan “magis” tersendiri untuk mempengaruhi membacanya tidak hanya dalam menangkap pesan sebuah konten namun juga meningkatkan keterkaitan antar pengguna. Untuk menguji hal tersebut, Larry kemudian membuat sebuah eksperimen kecil untuk melihat bagaimana pengaruh emoji ketika digunakan dalam promosi di media sosial.

Pada eksperimen tersebut, ia menjalankan 2 kampanye periklanan dimana salah satu konten dilengkapi dengan emoji dan konten lain tidak dilengkapi dengan emoji. Kemudian, keduanya ditargetkan pada sejumlah grup yang sama dan di waktu yang sama.

Hasilnya cukup mengejutkan, karena ternyata konten yang ditambahkan emoji mampu meningkatkan engagement atau keterkaitan dengan pengguna sebesar 25,4% lebih tinggi dari konten non-emoji. Tidak hanya dalam hal keterkaitan, konten yang mengandung emoji juga mampu menurunkan pengeluaran iklan sebanyak 22,2%, perbandingannya yakni $0.18 vs. $0.14 untuk setiap engagement yang terjadi.

Dalam kesempatan tersebut Larry juga membeberkan 3 cara paling mudah dalam menggunakan emoji untuk kepentingan marketing di media sosial.

1. Digunakan Untuk Merespon

Penggunaan pertama dari emoji dalam upaya marketing media sosial yakni untuk merespon sesuatu. Ketika kita ingin memberikan tanggapan terhadap sebuah konten atau merespon sesuatu, umumnya kita memberikan like atau favorite. Namun, hal tersebut bisa digantikan juga dengan menggunakan emoji.

Penggunaan emoji bisa menjadi cara yang terbaik untuk merespon sesuatu yang dibagikan oleh konsumen atau jika kita membagikan sesuatu kepada konsumen. Semisal kita mempunyai konten video lucu yang sangat tepat untuk dibagikan kepada konsumen secara online. Untuk mengekspresikan dan mendeskripsikan konten tersebut kita bisa menggunakan emoji :joy: Atau beberapa emoji lain yang memperlihatkan tampilan tertawa.

2. Digunakan Untuk Mengungkapkan Topik

Penggunaan kedua dari emoji yakni untuk merepresentasikan topik yang kita bahas. Seringkali kita memberikan konten dengan topik tertentu di media sosial untuk menjaring target market yang spesifik. Dan umumnya untuk bisa menjelaskan topik tersebut, menggunakan sebuah kalimat yang tentu jauh lebih tidak praktis ketimbang penggunaan simbol emoji.

Sebagai contoh, ada emoji berbagai bentuk makanan jika yang ingin kita bahas adalah tentang topik makanan. Atau penggunaan lain, jika kita membicarakan tentang topik fotografi kita bisa menggunakan emoji kamera yang tentu maksud dari emoji tersebut bisa ditangkap lebih cepat oleh konsumen.

3. Digunakan Untuk Memperpendek Status

Ketika kita menjalankan marketing melalui media sosial, efektivitas konten sangat berpengaruh terhadap keterkaitan kita dengan konsumen. Oleh karena itu kita sebaiknya tidak memberikan konten yang gagal menarik minat konsumen.

Penggunaan kata-kata yang monoton dan itu itu saja, sudah pasti akan terasa lebih kaku daripada memberikan status dengan balutan emoji yang terkesan lebih sederhana dan menarik. Oleh karena itu, dengan kreatifitas kita bisa merangkai sebuah status di media sosial yang unik dan menarik hanya dengan menggunakan beberapa emoji.

Sebagai contoh, kita ingin ekspresikan sebuah status yang berisi kata-kata “waktu adalah uang”. Daripada menuliskan kata-kata tersebut akan lebih efektif jika kita memberikan emoji gambar jam kemudian simbol (=) dan diikuti dengan gambar emoji tumpukan uang. Selain itu kita bisa mengembangkan kreativitas kita dalam penggunaan emoji untuk menyingkat tulisan ataupun pesan lain.

 

Source : maxmanroe

Kesiapan Indonesia Mengadopsi Internet of Things

Kesiapan Indonesia Mengadopsi Internet of Things

kesiapan_iot_indo

Internet of Things (IoT) yang digadang-gadang sejak 20 tahun lalu sebagai teknologi masa depan kini mulai dapat dilihat berbagai manfaatnya. Berbicara tentang IoT erat kaitannya dengan teknologi yang saling terhubung dan mudah diakses. Inovasi berlabel “smart” kini mulai gencar diberitakan, mulai dari smart home, smart car hingga smart city. Smart city adalah salah satu yang kini gencar dibangun di Indonesia sebagai salah satu langkah modernisasi dan adopsi teknologi ke sektor yang lebih luas.

Salah satu smart city yang sudah mulai dibangun adalah di kota Makassar. Program yang disponsori Telkom Indonesia ini saat ini telah memiliki beberapa layanan yang dapat dimanfaatkan oleh pemerintah dan masyarakat setempat, diantaranya berupa e-office, e-kelurahan, e-puskesmas hingga media pengaduan masyarakat yang dibuat secara digital berbasis website dan mobile. Digitalisasi sederhana ini menjadi salah satu langkah terciptanya smart city.

Lalu, apakah Indonesia sudah siap secara SDM (Sumber Daya Manusia) dan infrastruktur untuk mengadopsi IoT secara masif di berbagai sektor saat ini dengan melihat landscape teknologi yang ada? Menurut Tony Seno Hartono selaku National Technology Officer Microsoft Indonesia, pemrograman IoT tidaklah sulit di sisi device dan banyak SDM lokal yang bisa melakukannya, meskipun kebanyakan baru di tingkat hobi dan belum ditekuni secara profesional. Selain itu, Tony juga menambahkan, bahwa belum banyak yang menyadari bahwa potensi IoT besar sekali.

“Dari berbagai kegiatan kami di bidang kompetisi pemrograman, hal ini terlihat, misalnya para siswa membuat aplikasi menggunakan smart devices yang terhubung ke komputasi awan,” ujar Tony kepada DailySocial. “Infrastruktur yang kita miliki sebenarnya sudah cukup untuk mendukung IoT. Karena tidak semua sensor IoT membutuhkan koneksi internet (atau bahkan listrik) setiap waktu selama 24 jam. Semua itu tergantung penggunaannya untuk apa.”

IoT sendiri membutuhkan server yang selalu hidup. Dan di sisi lain ada banyak alternatif, misalnya menggunakan data center milik sendiri atau yang tersedia di internet. Untuk skala penerapan IoT yang masif, server cloud akan lebih masuk akal.

Selain Makassar, Bandung kini juga dikabarkan akan segera menerapkan prototipe smart city. Bahkan Telkom Indonesia menargetkan hingga akhir 2014 akan terdapat 20 kota yang akan dimasuki IoT dengan menerapkan teknologi smart city di wilayah tersebut.

Ditengah hingar bingarnya pemanfaatan IoT, HP Research sempat mengeluarkan publikasi tentang kerentanan perangkat IoT terhadap serangan hacker. Lalu apakah Indonesia siap untuk menanggulangi tantangan ini, terutama dalam hal keamanan perangkat IoT?

“Resiko negatif mungkin karena awareness terhadap keamanan dan privasi yang masih rendah. Banyak orang membuat suatu solusi IoT misalnya untuk memonitor keamanan rumah, namun lupa dari sisi keamanan dan privasi, sehingga begitu layanan dihidupkan maka peretas [hacker] segera punya akses ke sistem ini dan bisa melakukan penyusupan.” ujar Tony menanggapi isu keamanan pada implementasi IoT. “Saya melihat resiko negatif ini jauh lebih sedikit daripada manfaatnya yang luar biasa yang masih belum tergali sampai saat ini.”

IoT adalah bagian dari masa depan yang sudah mulai terealisasikan. Perencanaan yang baik akan meminimalisir berbagai risiko yang dihadapi. Indonesia yang sudah mulai beranjak dewasa dalam mengadopsi teknologi kini sudah siap untuk menyambut digitalisasi yang mulai merasuk ke sendi-sendi kehidupan yang lebih dalam.

 

Source : dailysocioal

Berkenalan dengan teknologi IoT atau Internet of Things

Berkenalan dengan teknologi IoT atau Internet of Things

berkenalan_dengan_iot
Internet of Things (IoT) merupakan sebuah istilah yang belakangan ini mulai ramai ditemui namun masih banyak yang belum mengerti arti dari istilah ini. Sebenarnya hingga saat ini belum ada pengertian atau definisi standar mengenai Internet of Things, namun secara singkat penulis mendefinisikan Internet of Things adalah di mana benda-benda di sekitar kita dapat berkomunikasi antara satu sama lain melalui sebuah jaringan seperti internet.
internet of Things (IoT) adalah sebuah konsep yang bertujuan untuk memperluas manfaat dari konektivitas internet yang tersambung secara terus-menerus, berikut kemampuan remote control, berbagi data, dan sebagainya, termasuk pada benda-benda di dunia fisik. Bahan pangan, elektronik, peralatan apa saja, koleksi, termasuk benda hidup, yang semuanya tersambung ke jaringan lokal dan global melalui sensor tertanam dan selalu “on”.
Faktanya, benda Internet atau Internet of Things bertujuan pada benda yang dapat di identifikasikan secara unik sebagai representasi virtual dalam struktur berbasis Internet. Istilah Internet of Things awalnya disarankan oleh Kevin Ashton pada tahun 1999 dan mulai popular melalui Auto-ID Center di MIT berikut publikasi analisa pasar yang terkait.
Salah satu wujud dari Intenet of Things yang ajap kali disebutkan, adalah sistem RFID (radio-frequency identification) yang menjadi komponen dipersyaratkan. Andaikan semua benda, mahluk atau insan dalam kehidupan sehari-hari dapat diidentifikasi secara elektronik, maka mereka bisa dikelola dan diinventarisasi oleh komputer.
Kecuali RFID (radio-frequency identification), sebagai tagging dapat juga digunakan teknologi seperti near field communication, barcode, kode QR dan watermarking digital. Dengan demikian misalnya, bisnis mungkin tidak lagi kehabisan stok atau menghasilkan produk-produk limbah, dimana pihak yang terlibat akan tahu lebih dini produk mana saja yang dibutuhkan dan dikonsumsi. Disisi lain, kemungkinan atas penyalahgunaan terhadap informasi yang terhimpun juga tidak boleh diremehkan.
Berdasarkan penelitian ABI Research, pada tahun 2020 diperkirakan akan terdapat lebih dari 30 miliar perangkat yang terhubung secara nirkabel melaui Internet of Things (atau Internet of Everything).
Definisi alternatif:
  • Casagras (Coordination and support action for global RFID-related activities and standardisation) mendefinisakan Internet of Things, sebagai sebuah infrastruktur jaringan global, yang menghubungkan benda-benda fisik dan virtual melalui eksploitasi data capture dan kemampuan komunikasi. Infrastruktur terdiri dari jaringan yang telah ada dan internet berikut pengembangan jaringannya. Semua ini akan menawarkan identifikasi obyek, sensor dan kemampuan koneksi sebagai dasar untuk pengembangan layanan dan aplikasi ko-operatif yang independen. Ia juga ditandai dengan tingkat otonom data capture yang tinggi, event transfer, konektivitas jaringan dan interoperabilitas.
  • SAP (Systeme, Anwendungen und Produkte) mendefinisikannya sbb: Dunia di mana benda-benda fisik diintegrasikan ke dalam jaringan informasi secara berkesinambungan, dan di mana benda-benda fisik tersebut berperan aktif dalam proses bisnis. Layanan yang tersedia berinteraksi dengan ‘obyek pintar’ melalui Internet, mencari dan mengubah status mereka sesuai dengan setiap informasi yang dikaitkan, disamping memperhatikan masalah privasi dan keamanan.

 

Source : tegnonesia

Data Statistik Mengenai Pertumbuhan Pangsa Pasar E-Commerce di Indonesia Saat Ini

Data Statistik Mengenai Pertumbuhan Pangsa Pasar E-Commerce di Indonesia Saat Ini

online-shoping

Pertumbuhan pesat pangsa pasar e-commerce di Indonesia memang sudah tidak bisa diragukan lagi. Dengan jumlah pengguna internet yang mencapai angka 82 juta orang atau sekitar 30% dari total penduduk di Indonesia, pasar e-commerce menjadi tambang emas yang sangat menggoda bagi sebagian orang yang bisa melihat potensi ke depannya. Pertumbuhan ini didukung dengan data dari Menkominfo  yang menyebutkan bahwa nilai transaksi e-commerce pada tahun 2013 mencapai angka Rp130 triliun.

Ini merupakan angka yang sangat fantastis mengingat bahwa hanya sekitar 7% dari pengguna internet di Indonesia yang pernah belanja secara online, ini berdasarkan data dari McKinsey. Dibandingkan dengan China yang sudah mencapai 30%, Indonesia memang masih tertinggal jauh, tapi perlu anda ingat bahwa jumlah ini akan terus naik seiring dengan bertumbuhnya penggunaan smartphone, penetrasi internet di Indonesia, penggunaan kartu debit dan kredit, dan tingkat kepercayaan konsumen untuk berbelanja secara online. Jika kita melihat Indonesia sebagai Negara kepulauan yang sangat luas, e-commerce adalah pasar yang berpotensi tumbuh sangat besar di Indonesia.

Tahukah anda bahwa ternyata sudah semakin banyak kota-kota kecil di Indonesia yang mulai berbelanja secara online? Pada tahun 2012, suatu perusahaan e-commerce di Indonesia mencatat bahwa 41% penjualan mereka berasal dari Jakarta, tapi enam bulan selanjutnya angka ini turun menjadi 22%. Ini menunjukkan bahwa tidak hanya konsumen di Jakarta saja yang rutin berbelanja online, konsumen di luar Jakarta pun tidak ingin ketinggalan mengikuti perkembangan zaman dengan menunjukkan kontribusi mereka pada pasar e-commerce di Indonesia.

Data dari lembaga riset ICD memprediksi bahwa pasar e-commerce di Indonesia akan tumbuh 42% dari tahun 2012-2015. Angka ini lebih tinggi jika dibandingkan negara lain seperti Malaysia (14%), Thailand (22%), dan Filipina (28%) Tentulah nilai sebesar ini sangat menggoda bagi sebagian investor, baik dalam maupun luar negeri. Beberapa VC (Venture Capital) besar seperti Rocket Internet, CyberAgent, East Ventures, dan IdeoSource bahkan sudah menanamkan modal ke perusahaan e-commerce yang berbasis di Indonesia. Sebut saja beberapa diantaranya adalah raksasa Lazada dan Zalora, Berrybenka, Tokopedia, Bilna, Saqina, VIP Plaza, Ralali dan masih banyak lagi. Mereka adalah sebagian contoh dari perusahaan e-commerce yang sukses dan berhasil dalam memanfaatkan peluang pasar e-commerce di Indonesia yang sedang naik daun.

Perilaku konsumen di Indonesia terhadap belanja online

Berdasarkan data dari Bolton Consulting Group (BCG), pada tahun 2013 golongan kelas menengah di Indonesia sudah mencapai angka 74 juta orang dan diprediksi pada tahun 2020, angka ini naik menjadi 141 juta orang atau sekitar 54% dari total penduduk di Indonesia. Melihat dari data ini, sudah jelas dan bisa dipastikan bahwa potensi pasar e-commerce di Indonesia sangatlah besar. Dengan meningkatnya golongan kelas menengah, orang-orang tidak akan segan untuk mengkonsumsi uang mereka untuk membeli berbagai macam barang yang mereka inginkan. Tapi walaupun memiliki potensi yang besar, tetap ada beberapa masalah yang menjadi penghambat pertumbuhan konsumen yang pernah belanja online.

Dalam artikel di WSJ menyatakan bahwa penyebab pertama kenapa orang Indonesia sampai saat ini masih ada yang belum pernah belanja online adalah rendahnya penetrasi kartu debit dan kredit. Berdasarkan data dari Euromonitor International di tahun 2013, ada 92 juta atau lebih dari 40% akun bank yang terhubung ke kartu kredit dan debit dari total penduduk Indonesia yang mencapai 240 juta. Jika dibandingkan dengan penetrasi mobile phone, angka ini masih rendah karena sekitar 85% orang Indonesia memiliki mobile phone yang mana setiap bulannya mereka menghabiskan 661 halaman untuk browsing.

perilaku-konsumen

Penyebab kedua kenapa orang Indonesia belum pernah belanja online adalah ketidakpercayaan. Data riset dari Nielsen menyatakan bahwa 60% orang Indonesia masih takut untuk memberikan informasi kartu kredit mereka di internet untuk belanja online, lebih besar dari negara-negara di Asia Tenggara kecuali Filipina. Walaupun jumlahnya masih rendah dibanding negara dengan total penduduk besar lainnya, jumlah pengguna kartu kredit di Indonesia sudah mulai bertumbuh, pada tahun ini diharapkan pengguna kartu kredit di Indonesia akan mencapai angka 16.5 juta. Berbeda dengan kartu kredit, jumlah kartu debit di Indonesia jauh lebih unggul yaitu hampir mencapai 80 juta pada tahun 2013 kemarin.

Ini adalah permasalahan yang harus dipecahkan perusahaan e-commerce dari sisi infrastruktur dan juga sistem pembayarannya. Perusahaan e-commerce harus bisa meyakinkan calon customer mereka agar mereka mau berbelanja secara online khususnya untuk target pasar anak muda yang pada umumnya sangat mengetahui perkembangan teknologi. Jika suatu perusahaan e-commerce bisa memberikan rasa kenyamanan dalam berbelanja online dan menyediakan sistem pembayaran yang bisa diterima banyak orang, diharapkan akan semakin banyak orang Indonesia yang tidak akan ragu lagi untuk berbelanja, baik menggunakan kartu kredit ataupun debit mereka.

Seperti yang anda ketahui bahwa Indonesia memiliki berbagai macam bank. Banyaknya bank ini termasuk hal yang mempersulit perusahaan e-commerce untuk menerima sistem pembayaran dari berbagai bank ini. Untuk mengatasi hal ini, beberapa perusahaan e-commerce di Indonesia seperti Tiket.com dan Traveloka.com menawarkan sistem pembayaran dari 14 channel pembayaran dari berbagai macam bank. Dengan begini, tidak ada lagi alasan bagi konsumen untuk tidak berbelanja online karena masalah pembayaran sudah dipecahkan.

Potensi pasar e-commerce di Indonesia

Menurut Matthew Driver, presiden MasterCard untuk wilayah Asia Tenggara, Indonesia adalah salah satu negara dengan pertumbuhan pasar e-commerce yang terbesar di Asia-Pacific. Di bawah ini adalah jumlah estimasi penjualan e-commerce untuk wilayan Asia-Pacific.

potensi-ecomerce

Sedangkan gambar di bawah ini menunjukkan estimasi pada penjualan e-commerce B2C di beberapa negara Asia. Walaupun jumlah penjualan di Indonesia masih rendah dibanding negara lainnya, namun melihat perkembangan Indonesia yang cukup pesat, tidak menutup kemungkinan negara tercinta kita ini akan menyaingi negara Asia lain yang sudah dulu menghasilkan penjualan e-commerce di atas Indonesia.

estimasi-penjualan-ecommerce

 

Source : starupbisnis